Data Impor Beras di Indonesia Tahun ini

Data Impor Beras di Indonesia Tahun ini – Berdasarkan data BPS, Bulog meng – impor beras sebanyak 865.518 ton atau senilai US$404.928.363 pada semester I-2018 (Januari-Juni). Selain itu, ada juga PT PPI (Persero) yang mengimpor beras sebanyak 30.000 ton atau senilai US$15.233.750. Keputusan impor ini di – ambil menyusul merangkak naiknya harga beras di pasaran beberapa waktu lalu. Pada 2 Agustus lalu, Darmin Nasution, Men teri Perekonomian menegaskan, stok Bulog sudah di atas 2 juta ton dan tidak akan ada impor lagi.

Masih Rawan

Menurut Ratno Soe – tjip tadie, ketahanan pangan (food security) Indonesia selama 2015- 2080 sangat rentan terhadap perubahan iklim. “Indonesia ada di kategori merah. Artinya, ka – lau ada perubahan iklim, Indonesia sangat rentan terhadap kelaparan dan kekurangan gizi,” papar – nya pada acara diskusi ter batas bertema “Pro – duktivitas Padi versus Im portasi Beras, Ada Apa?” yang diselengga – rakan Forum Wartawan (Forwatan) di Kantor Ke – men terian Pertanian (Ke mentan) Jakarta, Senin (9/7).

Ketahanan pangan, lan jut ilmuwan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang saat itu beker – ja di FAO, bukan soal ketersediaan pangan cukup hanya buat hari ini, tapi juga harus cukup untuk seterusnya. “Kalau butuh 1 juta ton, mestinya kita produksi 1,5 juta ton sehingga ada stok 0,5 juta ton. Kita belum sampai ke sana,” jabar pria yang pernah membawa perusahaan swasta di Lampung menjadi pengekspor nanas terbesar nomor satu di dunia itu. Peningkatan produktivitas padi sulit dicapai jika tidak dibenahi dari elemen yang paling dasar, yaitu tanah. Dari hasil pengamatan, Ratno memperkirakan ada 69% tanah di Indonesia yang masuk kate – gori rusak parah. Jika ingin membuktikan, ia mempersilakan siapa pun untuk mencabut padi yang sedang ditanam. Ke mu – dian lihat bagian akarnya. Jika padi terlihat dengan daun hijau tapi tidak memiliki akar, itu tandanya tanah keracunan pestisida. Persoalan kerusakan dan penurunan da ya dukung tanah sangat serius karena menyebabkan gangguan parah pada sistem perakaran. Sehingga, penyakit tular tanah (soil-borne diseases) berkembang, bulir padi kosong, ketersediaan hara yang rendah, dan berkembangnya hama dan penyakit tanaman.

Potensi kehilangan produksi mencapai 20%-80%, bahkan gagal panen. Saat ini, Ratno melihat Indonesia belum mampu memenuhi ketersediaan pangan atau bahkan terlepas dari impor jika pertanian masih skala kecil. Persoalannya mu lai dari ketidakseimbangan suplai, per tanian modern, dan tingkat pengetahuan petani. Dari survei yang ia lakukan di beberapa negara Asia Tenggara, Indo – ne sia menempati urutan terendah me – nge nai pengetahuan petani tentang ber – tani. Jika Thailand mendapat skor 7, Viet – nam 6, Indonesia hanya mendapat skor 2. Menurut Ratno, budidaya tanaman padi masih minim sentuhan teknologi oleh pe – tani. “Petani tidak bisa mengukur pH. Bah – kan tidak tahu pH itu apa. Tidak tahu obatobatan apa yang dilarang, juga tidak bisa memilih benih unggul,” terangnya. Bah kan dari pengamatannya, ada petani di Ka – rawang, Jabar, yang memberikan pu puk pada tanaman terus menerus tapi ti dak mengetahui the law of diminishing returns atau hukum titik balik. Tanaman yang sudah diberi pupuk maksimal, ke mu dian terus diberi pupuk, hasilnya tidak akan lebih baik. Malahan, tanah menjadi rusak.

Perbaiki

Ratno menyarankan Indonesia segera melakukan program soil amandment atau program pembugaran tanah.“Perbaiki sifat biologi tanah. Make the soil life again. Saya menyarankan program pembugaran tanah ini harus dilakukan secepatnya,” ujar doktor alumnus Universitas Hawaii itu. Pe tani juga harus menguasai perekayasaan ekologi atau pengendalian hama dengan cara biologi. Jika harus aplikasi pestisida, penggunaannya harus sangat ketat mengikuti kaidahkaidah yang dianjurkan. Selain memperhatikan kesuburan tanah, lanjut Ratno, pemerintah juga sebaiknya menjadikan pertanian padi seperti mo del perkebunan yang memiliki inti dan plas ma. Koperasi me – mang sudah ada, tapi se baiknya membentuk koperasi yang besar, ja – ngan kecil-kecil. Di ko – pe rasi yang besar ini, bi – arkan petani menjadi pe milik lahan, dan se – rahkan manajerial lapangan beserta tek – nisinya kepada putra-putri bangsa yang sudah menempuh pendidikan di bidang pertanian. “Petani pemilik lahan tinggal menerima hasil saja, tidak perlu repotrepot turun ke lapangan,” sarannya. Pembentukan koperasi ini juga disertai perombakan lahan pertanian. Lahan pertanian disesuaikan untuk penerapan pertanian modern. Pertanian modern atau yang menggunakan mesin besar secara menyeluruh, terbukti mengefisienkan ongkos produksi sehingga harga gabah dan beras di pasaran Indonesia bisa bersaing. Bukan hanya bersaing secara lokal, tapi juga internasional.

Bentuk koperasi besar ini sudah diterapkan di beberapa negara maju dengan pertanian modern seperti Amerika, Australia, dan Belanda. Setelah urusan tanah, petani harus pan – dai memilih benih unggul. Yuana Leksa – na, perwakilan dari Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) mengatakan, un – tuk mencapai peningkatan produktivitas, pertanian terkini harus menerima sentuhan teknologi. Salah satunya, memanfaatkan benih hibrida. “Sudah banyak va – rietas unggul dirilis tapi 30% luas tanam di Indonesia masih menggunakan varie – tas Ciherang,” katanya. Padahal dengan menanam padi hibrida, lanjut Yuana, petani bi sa mendapatkan tanaman padi yang re – latif ta han terhadap ha – ma dan penyakit tertentu, penggilingan men – da pat gabah yang be – ras kepalanya tidak pe – cah lebih banyak, dan konsumen mendapat be ras ber kualitas de – ngan ra sa nya yang enak. Kerja untuk membenahi kondisi pertanian se karang ini merupa kan kerja semua pihak. Tidak bisa dibebankan hanya ke salah satu pi hak. Se – bagai perusaha an yang bergerak yang di bidang pestisida, PT Agricon juga turut serta membantu memperbaiki produktivitas padi di Indonesia.

Budi Widodo, Technical & Mar keting Manager PT Agri con mengatakan, perusahaannya memiliki program edu kasi kepada petani yang diberi nama Se kolah Lapang Agricon (SLA). “Kami fokus ke pe – ningkatan produktivitas,” tandasnya. Pro – gram tahun ini berambisi menaikkan ratarata produktivitas hingga 2 ton/ha. Jika saat ini rata-rata produksi padi nasio nal 5 ton/ ha, tahun depan harus naik 7 ton/ha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *